Memori Kebangsaan Untuk Merah Putih

Perjalanan Sekolah Rakyat dimulai saat pemerintah Hindia Belanda membuka Sekolah Desa bagi anak-anak pribumi. Sekolah-sekolah ini tumbuh perlahan menjadi ruang yang menumbuhkan semangat belajar. Setelah kemerdekaan tahun 1945, Sekolah Rakyat bertransformasi menjadi bagian dari sistem pendidikan nasional. Meski nama dan sistemnya berubah, tetapi tetap mengemban peran penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Namun, dalam perjuangan mencerdaskan bangsa, pemerintah dihadapkan dengan tingginya angka ketidakhadiran siswa akibat masalah gizi dan stunting. Dampaknya tidak hanya fisik, tetapi juga mengganggu kecerdasan dan produktivitas. Mereka lebih rentan sakit, mudah lelah, dan kesulitan berkonsentrasi, yang berujung pada ketidakhadiran bahkan putus sekolah. Stunting telah menjadi perhatian balk di tingkat nasional maupun global. Sejak masa kemerdekaan, Indonesia telah meluncurkan berbagai inisiatif untuk mengatasi masalah ini, serta peluncuran berbagai kebijakan strategis untuk menekan angka stunting di tanah air. Salah satunya melalui program Makan Bergizi Gratis. Pada masa Presiden Soeharto, perhatian ini ditegaskan kembali melalui Instruksi Presiden No. 1 Tahun 1997, yang meluncurkan Program Makanan Tambahan Anak Sekolah (PMS-AS) di daerah tertinggal sebagai bagian dari program besar Wajib Belajar Sembilan Tahun. Pada tahun 1984, Indonesia juga berhasil mencapai swasembada beras pada tahun 1984, bahkan mendapatkan pengakuan dari Food and Agriculture Organization (FAO). Semangat swasembada ini tetap menjadi landasan perjuangan menuju kedaulatan pangan, kesejahteraan bangsa, dan masa depan anak-anak Indonesia. Keempat program tersebut sejalan dengan visi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam Kabinet Merah Putih yaitu "Bersama Maju Menuju Indonesia Emas 2045". Melalui arsip yang tersimpan di ANRI, dapat terlihat bagaimana keempat program tersebut menjadi perhatian dari masa ke masa. Pameran ini bukan sekedar menghadirkan potret masa lalu, tetapi juga menyuarakan harapan untuk membentuk wajah Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing global sejalan dengan misi utama Asta Cita.